LKPD-16 Elemen Teknologi Jaringan Kabel dan Nirkabel

 

Elemen Teknologi Jaringan Kabel dan Nirkabel

Fase F

Mata Pelajaran: Teknologi Kabel dan Jaringan Nirkabel

Topik: Instalasi dan Konfigurasi Jaringan PPPoE FTTH

Alokasi Waktu: 6 x 45 menit (disesuaikan)

 

Nama: ZAKARIA


A. TUJUAN PEMBELAJARAN:

Setelah menyelesaikan LKPD ini, peserta didik diharapkan mampu:

  1. Menjelaskan konsep dasar FTTH (Fiber to The Home) dan PPPoE (Point-to-Point Protocol over Ethernet).
  2. Memahami peran ONT/ONU dan Router dalam jaringan PPPoE FTTH.
  3. Melakukan konfigurasi interface PPPoE Client pada router.
  4. Mengkonfigurasi NAT (Network Address Translation) agar perangkat lokal dapat terhubung ke internet.
  5. Melakukan pengujian konektivitas internet dari perangkat klien.
  6. Menganalisis parameter PPPoE yang diberikan oleh ISP.

B. TEORI SINGKAT:

1. FTTH (Fiber to The Home):

FTTH adalah arsitektur jaringan yang menggunakan serat optik dari kantor pusat penyedia layanan internet (ISP) langsung ke rumah atau kantor pelanggan. Teknologi ini menawarkan kecepatan transfer data yang jauh lebih tinggi dan stabil dibandingkan kabel tembaga. Dalam implementasinya, perangkat di sisi pelanggan disebut ONT (Optical Network Terminal) atau ONU (Optical Network Unit).

2. PPPoE (Point-to-Point Protocol over Ethernet):

PPPoE adalah protokol jaringan yang digunakan untuk membungkus paket data PPP dalam frame Ethernet. PPPoE memungkinkan ISP untuk melakukan otentikasi (verifikasi username dan password) dan akuntansi (pencatatan penggunaan data) pada setiap sesi koneksi internet. Ini adalah metode yang sangat umum digunakan oleh ISP FTTH untuk memberikan layanan internet.

3. Alur Jaringan PPPoE FTTH (Sisi Pelanggan):

       Serat optik dari ISP terhubung ke ONT/ONU.

       ONT/ONU mengkonversi sinyal optik menjadi sinyal elektrik (Ethernet).

       Kabel LAN dari ONT/ONU terhubung ke Router (biasanya port WAN).

       Di dalam Router, Anda akan mengkonfigurasi PPPoE Client dengan username dan password yang diberikan oleh ISP.

       Router akan terhubung ke internet.

       Perangkat di rumah (PC, HP) terhubung ke Router (via kabel LAN atau WiFi) dan mendapatkan IP lokal dari Router (DHCP).

       Router melakukan NAT untuk meneruskan koneksi dari perangkat lokal ke internet.


C. ALAT DAN BAHAN:

  1. Virtual Machine (VM) atau Router fisik yang akan disimulasikan sebagai Router Mikrotik.
  2. Virtual Machine (VM) yang akan menjadi komputer klien (Windows atau Linux).
  3. Software Virtualisasi: Oracle VirtualBox, VMware Workstation Player/Pro, atau Hyper-V.
  4. Koneksi jaringan virtual untuk simulasi:
    • Satu adaptor jaringan di Mikrotik Router yang terhubung ke jaringan WAN virtual (simulasi dari ONT).
    • Satu adaptor jaringan di Mikrotik Router yang terhubung ke jaringan LAN virtual.
    • Satu adaptor jaringan di komputer klien yang terhubung ke jaringan LAN virtual yang sama dengan Mikrotik.
  5. Aplikasi untuk konfigurasi Mikrotik: Winbox (untuk Windows) atau SSH/CLI (untuk Linux/macOS).
  6. Web Browser (Google Chrome, Mozilla Firefox, dll.) di komputer klien untuk pengujian.
  7. Lembar kerja dan alat tulis.

D. KESELAMATAN KERJA:

  1. Pastikan sumber daya listrik stabil.
  2. Ikuti instruksi dengan cermat.
  3. Berhati-hatilah saat mengkonfigurasi router.
  4. Laporkan kepada guru/instruktur jika ada kendala.
  5. Pastikan semua adaptor jaringan virtual telah diatur dengan benar agar tidak terjadi konflik IP.

E. LANGKAH KERJA:

BAGIAN 1: PERSIAPAN TOPOLOGI JARINGAN VIRTUAL

  1. Siapkan Router Mikrotik:
    • Pastikan Mikrotik Router memiliki 2 adaptor jaringan.
    • Adaptor 1: Hubungkan ke jaringan WAN Virtual (misal: Internal Network dengan nama WAN-Network). Ini akan menjadi port ether1.
    • Adaptor 2: Hubungkan ke jaringan LAN Virtual (misal: Internal Network dengan nama LAN-Network). Ini akan menjadi port ether2.
  2. Siapkan Komputer Klien:
    • Hubungkan satu adaptor jaringan di komputer klien ke jaringan LAN Virtual yang sama dengan Mikrotik (LAN-Network).
    • Atur konfigurasi IP pada adaptor ini menjadi DHCP Client (Obtain an IP address automatically).

BAGIAN 2: KONFIGURASI MIKROTIK ROUTER

  1. Login ke Mikrotik Router:
    • Buka Winbox dari komputer host atau klien (jika berada di subnet yang sama).
    • Login dengan username default admin (tanpa password) atau sesuai konfigurasi awal Anda.
  2. Identifikasi Interface:
    • Pada menu Winbox, buka Interfaces.
    • Beri nama setiap interface agar mudah dikenali:

        ether1 -> ether1-WAN

        ether2 -> ether2-LAN

  1. Konfigurasi PPPoE Client:
    • Pada menu Winbox, buka PPP > tab Interface > klik tombol + > pilih PPPoE Client.
    • Di jendela New Interface:

        Name: pppoe-out1 (default)

        Interfaces: Pilih ether1-WAN.

    • Pindah ke tab Dial Out:

        User: Masukkan username PPPoE yang diberikan oleh ISP (misal: userftth@isp.net).

        Password: Masukkan password PPPoE.

        Centang Add Default Route dan Use Peer DNS.

    • Klik Apply, lalu OK.
  1. Verifikasi Koneksi PPPoE:
    • Kembali ke menu PPP > tab Interface.
    • Lihat status pppoe-out1. Jika berhasil terhubung, status akan R (running).
    • Buka menu IP > Addresses. Anda akan melihat IP Address publik telah diberikan ke pppoe-out1 secara otomatis.
    • Uji konektivitas ke internet dari Mikrotik:

        Buka menu New Terminal.

        Ketik ping google.com. Jika berhasil, akan ada balasan.

  1. Konfigurasi IP Address LAN dan DHCP Server:
    • Buka menu IP > Addresses.
    • Klik tombol +.
    • Di jendela New Address:

        Address: Masukkan IP lokal untuk jaringan LAN Anda (misal: 192.168.x.123 (x = no_urut_absen)/24).

        Interface: Pilih ether2-LAN.

    • Klik Apply, lalu OK.
    • Buka menu IP > DHCP Server.
    • Klik tombol DHCP Setup.
    • DHCP Server Interface: Pilih ether2-LAN. Klik Next dan ikuti panduan hingga selesai (biarkan default).
  1. Konfigurasi NAT (Network Address Translation):
    • Buka menu IP > Firewall > tab NAT.
    • Klik tombol +.
    • Di jendela New NAT Rule:

        Tab General:

        Chain: Pilih srcnat.

        Out. Interface: Pilih pppoe-out1.

        Tab Action:

        Action: Pilih masquerade.

    • Klik Apply, lalu OK.

BAGIAN 3: PENGUJIAN KONEKTIVITAS DARI KLIEN

  1. Verifikasi IP di Komputer Klien:
    • Di komputer klien Windows/Linux, buka Command Prompt atau Terminal.
    • Ketik ipconfig /all (Windows) atau ip a (Linux).
    • Pastikan IP Address yang didapat berada dalam rentang IP yang Anda set di Mikrotik
    • Pastikan Default Gateway adalah 192.168.x.123 (x = no_urut_absen).
  2. Uji Konektivitas Internet:
    • Dari komputer klien, buka Command Prompt atau Terminal.
    • Ketik ping 8.8.8.8 (untuk menguji koneksi ke Google DNS).
    • Ketik ping google.com (untuk menguji resolusi DNS dan koneksi internet).
    • Jika berhasil, Anda dapat membuka web browser dan mengakses situs web apa pun.

F. HASIL PENGAMATAN / ANALISIS:

  1. Jelaskan perbedaan mendasar antara jaringan FTTH dan jaringan ADSL atau kabel tembaga!
  2. Mengapa NAT diperlukan dalam konfigurasi ini? Apa yang terjadi jika NAT tidak dikonfigurasi?
  3. Jelaskan fungsi dari PPPoE Client di Mikrotik!
  4. Apa yang Anda amati dari hasil ping google.com di terminal Mikrotik dan di komputer klien? Apa perbedaannya dan mengapa?
  5. Apa yang dimaksud dengan Use Peer DNS dalam konfigurasi PPPoE Client?
  6. Jika klien tidak mendapatkan IP Address secara otomatis, di bagian mana dari konfigurasi yang kemungkinan besar bermasalah?
  7. Mengapa PPPoE masih banyak digunakan oleh ISP untuk pelanggan rumahan, padahal ada metode lain seperti DHCP?

JAWABAN:

Berikut jawaban untuk setiap pertanyaan yang Anda ajukan:

1. Perbedaan mendasar antara jaringan FTTH dan jaringan ADSL atau kabel tembaga

  • FTTH (Fiber to the Home): Menggunakan serat optik (fiber optic) sebagai media transmisi data dari penyedia layanan ke rumah pelanggan. Kecepatan internet sangat tinggi, dapat mencapai hingga beberapa Gbps, dan sangat stabil karena tidak terpengaruh oleh gangguan elektromagnetik. FTTH juga memiliki jangkauan yang lebih luas dan lebih tahan terhadap kerusakan fisik.
  • ADSL (Asymmetric Digital Subscriber Line) atau Kabel Tembaga: Menggunakan kabel tembaga yang sama dengan kabel telepon untuk mentransmisikan data. Kecepatan ADSL lebih rendah dibandingkan FTTH, dengan kecepatan unduh yang lebih tinggi daripada unggah (asymmetric). Jarak antara pelanggan dan central office (CO) memengaruhi kecepatan dan kualitas sinyal. ADSL juga lebih rentan terhadap gangguan elektromagnetik.

Perbedaan utama:

  • FTTH menggunakan kabel serat optik dengan kecepatan lebih tinggi dan stabil.
  • ADSL menggunakan kabel tembaga dengan kecepatan lebih rendah dan lebih terpengaruh oleh jarak serta gangguan.

2. Mengapa NAT diperlukan dalam konfigurasi ini? Apa yang terjadi jika NAT tidak dikonfigurasi?

  • NAT (Network Address Translation) berfungsi untuk mengubah alamat IP privat (misalnya 192.168.x.x) yang digunakan di dalam jaringan lokal menjadi alamat IP publik yang digunakan di internet. Hal ini memungkinkan beberapa perangkat di jaringan lokal untuk berbagi satu alamat IP publik.
  • Jika NAT tidak dikonfigurasi:
    • Perangkat di jaringan lokal tidak dapat mengakses internet, karena alamat IP lokal (privat) tidak dapat dikenali oleh router atau server di internet.
    • NAT mengizinkan komunikasi antara jaringan lokal dan internet, jadi tanpa NAT, komunikasi tersebut tidak dapat terjalin dengan baik.

3. Fungsi dari PPPoE Client di Mikrotik

PPPoE (Point-to-Point Protocol over Ethernet) adalah protokol yang digunakan untuk menghubungkan pengguna ke ISP menggunakan koneksi Ethernet, sering kali digunakan dalam koneksi broadband seperti ADSL atau Fiber. Fungsi PPPoE Client di Mikrotik adalah:

  • Mengautentikasi dan membuat koneksi PPPoE ke ISP.
  • Menyediakan akses internet kepada perangkat pengguna setelah koneksi PPPoE berhasil terjalin.
  • Mengelola alokasi IP dinamis atau statis dari ISP berdasarkan koneksi PPPoE.

Dengan kata lain, PPPoE Client di Mikrotik bertugas sebagai penghubung antara jaringan lokal dan ISP menggunakan protokol PPPoE.

4. Apa yang Anda amati dari hasil ping google.com di terminal Mikrotik dan di komputer klien? Apa perbedaannya dan mengapa?

  • Ping di Terminal Mikrotik:
    • Ping ini akan mengarah langsung ke internet menggunakan koneksi PPPoE yang telah dikonfigurasi. Jika konfigurasi NAT dan routing sudah benar, ping akan berhasil.
  • Ping di Komputer Klien:
    • Ping ini bisa berbeda jika klien terhubung ke jaringan lokal dan NAT belum dikonfigurasi dengan benar pada Mikrotik. Jika NAT tidak bekerja dengan baik, komputer klien tidak akan dapat mengakses internet, meskipun Mikrotik sudah bisa melakukannya. Selain itu, pastikan DNS juga dikonfigurasi dengan benar.

Perbedaan:

  • Mikrotik mungkin berhasil melakukan ping ke luar jaringan, tetapi jika komputer klien tidak bisa ping ke google.com, kemungkinan masalah pada NAT atau DNS di Mikrotik.

5. Apa yang dimaksud dengan Use Peer DNS dalam konfigurasi PPPoE Client?

Use Peer DNS adalah opsi dalam konfigurasi PPPoE yang memungkinkan router Mikrotik untuk menggunakan DNS yang diberikan oleh ISP setelah koneksi PPPoE berhasil. Jika opsi ini diaktifkan, DNS yang diberikan oleh ISP akan otomatis dikonfigurasi pada Mikrotik, dan ini memungkinkan perangkat yang terhubung ke router Mikrotik untuk menggunakan DNS tersebut untuk resolusi nama domain.

Jika opsi ini tidak diaktifkan, Mikrotik mungkin tidak mendapatkan pengaturan DNS otomatis dan Anda harus mengonfigurasi DNS secara manual.

6. Jika klien tidak mendapatkan IP Address secara otomatis, di bagian mana dari konfigurasi yang kemungkinan besar bermasalah?

Jika klien tidak mendapatkan IP secara otomatis, beberapa bagian yang mungkin bermasalah adalah:

  • PPPoE Client: Periksa apakah username dan password yang digunakan di PPPoE Client sudah benar.
  • NAT: Pastikan NAT telah dikonfigurasi dengan benar pada Mikrotik untuk memungkinkan perangkat di jaringan lokal mengakses internet.
  • DHCP Server: Jika Anda menggunakan DHCP, pastikan DHCP server di Mikrotik telah diaktifkan dan dikonfigurasi dengan benar.
  • Firewall: Periksa apakah ada aturan firewall yang menghalangi alokasi IP atau akses ke PPPoE.

7. Mengapa PPPoE masih banyak digunakan oleh ISP untuk pelanggan rumahan, padahal ada metode lain seperti DHCP?

Beberapa alasan PPPoE masih banyak digunakan oleh ISP untuk pelanggan rumahan:

  • Autentikasi Pengguna: PPPoE memungkinkan ISP untuk mengautentikasi setiap pengguna secara individual menggunakan username dan password. Ini penting untuk penagihan dan manajemen akun.
  • Pengelolaan Bandwidth: Dengan PPPoE, ISP dapat memonitor dan mengatur bandwidth masing-masing pengguna secara lebih mudah.
  • Kemudahan Pengelolaan Jaringan: PPPoE memungkinkan ISP untuk mengelola sejumlah besar pelanggan dengan lebih efisien, karena koneksi hanya akan aktif jika kredensial yang benar dimasukkan.
  • Keamanan: PPPoE lebih aman daripada DHCP karena menyediakan lapisan autentikasi sebelum koneksi dilakukan.

 

 


G. KESIMPULAN:

Buatlah kesimpulan mengenai pengetahuan dan keterampilan yang Anda peroleh setelah menyelesaikan LKPD ini. Jelaskan bagaimana protokol PPPoE dan teknologi FTTH bekerja sama untuk memberikan koneksi internet yang cepat dan aman, serta bagaimana router seperti Mikrotik dikonfigurasi untuk menghubungkan jaringan lokal pelanggan ke internet.


H. PENILAIAN:

No

Keterangan

Poin maksimal

1

Keberhasilan pekerjaan

30

2

Kemampuan bernalar

35

3

Kelengkapan dokumentasi (upload )

30


LAMPIRAN (Penugasan):

       Screenshot Winbox dengan konfigurasi PPPoE Client yang sudah Running.

       Screenshot Winbox dengan konfigurasi NAT.

       Screenshot hasil ping google.com dari terminal Mikrotik.

       Screenshot ipconfig /all (Windows) atau ip a (Linux) dari klien yang sudah mendapatkan IP.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

       Screenshot hasil ping google.com dari terminal klien.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

       Diagram topologi jaringan yang dibuat.

 

 

       Upload hasil pekerjaan


 






 

Comments